Visitor


USER ONLINE : 4
TOTAL VISITOR : 134069
 

Jika tidak bisa memberi dengan materi, maka senyum yang tulus adalah bentuk sikap yang dapat menentramkan jiwa bagi yang menerimanya.  ADA MASALAH HUKUM ? SILAHKAN KONSULTASI DI SINI.....!!!

 
 
Seribu Cinta di sekitar kita
Penulis :M.Arsyad Gafar,SH
 

Sore yang cerah. Mentari sedang bersiap menuju peraduan. Saya selalu menikmati suasana jam 5 sore di beranda rumah, sambil merenung dan mengingat-ingat pekerjaan tadi siang. Suasana sore seperti ini, sebenarnya kata orang, mirip suasana di sorga. Tidak panas dan tidak dingin. Tenang dan tidak bising. Pancaran sinar mentari memperlihatkan kelembutan dan keindahannya pada pucuk-pucuk daun seperti berselimut cahaya keemasan. Sepasang burung manyar terdengar mencicit bersahutan mendekati sarang di puncak pohon mangga tetangga. Cicit burung manyar meski sederhana tapi tidak bisa dilafalkan seperti fonem dalam tata bunyi bahasa manusia. Makanya saya katakan “mencicit” saja. Sebenarnya lebih indah dari kata itu. Bunyi burung manyar yang berpasangan itu seperti mengirim isyarat ke syaraf otak saya memberitakan kehangatan dan kerinduannya pada sepasang anak bayinya di sarang. Anak-anak manyar itu hanya terdiam membisu. Tidak seperti pada pagi hari, ketika induknya datang, maka dia akan menengadahkan kepala dan membuka mulutnya lebar-lebar tanda minta disuapi serangga kesenangannya. Anak-anak manyar itu terdiam saja karena perutnya sudah kenyang hari ini. Kedua induknyapun hanya mencerna makanannya sendiri dengan enzim-enzim pencernaan yang disiapkan sang pencipta untuknya. Enzim-enzim itu mencerna dan merobah serangga menjadi protein yang memberinya kekuatan untuk terbang lagi esok hari mencari serangga kesenangan bayi mereka.

Entah mengapa, saya sangat menikmati “cicit” burung manyar itu walau terdengar hanya seperti orang berbisik, lalu diam. Entah mengapa seolah-olah saya seperti Nabi Sulaiman As yang mengerti bahasa burung. Saya mendengar bisikan burung manyar itu. Sang jantan berbisik kepada betinanya, “capek juga hari ini, sayang. Serangga yang biasanya banyak diawal musim hujan kok kayaknya pada menjauh. Kamu capek juga kan?”. “ya, capek juga, seperti abang. Tapi anak kita hari ini sudah cukup makan kok”.

Bisikan-bisikan cinta antara sepasang manyar memancarkan sinyal-sinyal keindahan alami yang sampai ke otak saya merangsang untuk menikmati keindahan cinta berupa rahman dan rahim sang Pencipta alam semesta. Menghayati cinta sang khalik kepada semua makhlukNya seperti mengalir dari alam semesta masuk ke ubun-ubun merasuk sampai ke jantung dan menggetarkan simpul-simpul ilahiah yang tertanam di dalam hati. Simpul-simpul itu laksana chip pada komputer yang akan bereaksi sesuai perintah key board. Maka sungguh tepat firman Allah, “bila hambaku bertanya, katakanlah bahwa aku lebih dekat dari urat leher mereka”. Saya senang berlama-lama hanyut dalam buaian ilahiah, karena di saat seperti itu gelombang tetha otak saya mengalami fase ekstase. Kenikmatan yang luar biasa, sampai air mata menetes berderai-derai seperti orang yang lebay. Ya, memang orang yang sedang jatuh cinta selalu menjadi lebay, menurut istilah gaul anak muda. Cinta membutuhkan setidaknya satu gelas air mata. Maka bila rasa cinta itu datang, curahan segelas air matapun rasanya tidak cukup. Karena sesungguhnya cinta itu bersumber dari rahman dan kasihNya Allah. Berbahagialah kalau bisa merasakan rahman dan rahimnya Allah.

Tiba-tiba saya tersentak dari lamunan karena teringat, tadi siang saya baru saja menghadiri “sidang mediasi” sepasang suami isteri di Pengadilan Negeri. Saya mewakili suami sebagai kuasa hukum. Isteri yang menjadi fihak Tergugat, tadinya kelihatan tegar memasuki ruang sidang. Namun sekarang  terlihat hanya bisa menangis sesenggukan mendengar petuah Hakim Mediasi. Hakim yang bijak itu memberi nasehat kepada Tergugat tentang bagaimana membina rumah tangga yang baik, bagaimana bersikap kepada suami, bagaimana mengurus rumah tangga dst. Sebentar-sebentar Hakim melihat kearah saya seolah-olah saya adalah suami Tergugat. Saya menjadi risih dan berkata: “Maaf pak Hakim, klien saya tidak bisa datang karena sedang di luar kota”. Maksud saya, kalimat itu adalah bentuk protes  kepada Hakim yang menoleh kepada saya setiap selesai memberi wejangan.

Selesai sidang mediasi hari itu, saya pergi menemui sang suami di tempat kerjanya dan melaporkan hasil sidang mediasi itu. Sebenarnya saya agak gugup dan tidak sampai hati melihat isterinya menangis ketika membayangkan perceraian itu bakal terjadi. Lalu saya berusaha memancing perbincangan dengan si suami.

“Emang bapak pertama kali ketemu nyonya di mana?”. “Ya, saya seorang pelatih senam. Banyak ibu-ibu yang ikut dalam latihan saya. Di antaranya isteri saya itu. Kami saling tertarik secara biologis dan jatuh cinta, lalu kawin”.

Perawakan si suami memang charming dan menarik dengan postur tubuh ideal layaknya seorang pelatih senam. Otot bahunya menonjol tapi tidak segarang otot Ade Ray, dadanya bidang, kulit bersih dan selalu senyum. Saya merasa heran kalau orang segagah ini mau menceraikan isterinya yang juga tak kalah cantik. Isterinya berkulit putih bersih, wajah oval dengan muka yang ranum menarik, rambut hitam bergerai dengan anak-anak rambut tipis di pelipis menambah indah penampilannya.

Ah, sayang sekali. Kalau sampai perceraian ini terjadi, sebenarnya saya juga ikut belasungkawa. Tapi, sebagai professional, saya tidak boleh larut. Saya mencoba sedikit lebih jauh dengan kondisi alam bathin si suami ini, yang sebenarnya menurut saya adalah “orang baik”. Terbukti dari tutur katanya selama pertama kali menjadi klien saya sampai hari ini, rasanya tidak menggambarkan sosok yang kurang.

“Apakah bapak pernah memuji isteri bapak?”. kata saya. “Kenapa bapak tanyakan itu?” katanya. Saya jadi terdiam, jangan sampai pertanyaan saya menyinggung perasaannya. Saya berusaha lebih professional dalam menyampaikan pertanyaan. “Biasanya, perempuan itu sangat respek terhadap pujian” kata saya. “Yah, mungkin itu kekurangan saya. Saya memang tidak pernah memuji isteri saya” jawabnya, Terlihat dia mulai memandang sayu. Mungkin ada sedikit penyesalan akan kekurangannya. Tapi, sebaliknya saya gembira dengan jawaban itu, Saya menemukan pangkal masalahnya, yang mungkin bisa menjadi awal terapi saya.

Masih dalam buaian lamunan dan tenggelam dalam ingatan akan kejadian sidang mediasi tadi siang dan pertemuan dengan sang suami, isteri saya mengagetkan dan membubarkan lamunan  itu. Dia mengantarkan teh manis kental kesukaan saya ketika sedang sendiri.

“Bapak menangis? Kenapa?” tanyanya. Tersipu-sipu saya menjawab, “Gak apa-apa. Lagi ngingat kisah yang sedih aja”. “Emang ada cerita sedih apaan?” katanya lagi, tanpa mengharap jawaban saya. Lalu dia mulai cerita tentang cucunya yang lucu, tentang tetangga yang tadi siang datang pinjam uang, tentang arisan RT yang selalu kemelut saja, lalu tentang pak SBY yang selalu diserang habis-habisan oleh lawan politiknya.

Kalau sudah cerita politik, wah isteri saya jagonya. Dia paling marah kalau SBY diganggu dengan segala macam cara. Dari mulai kampanye pilpreslah, kasus Century lah, rencana impeachment lah. “Apa itu impeachment pak?” tanya isteri saya. Dalam segala hal saya adalah guru bagi isteri saya. Isteri saya selalu bertanya apa saja yang baru diketahuinya, dan saya berusaha menjawab semua apa yang dibutuhkannya.

Sore itu, isteri saya memakai daster baru yang saya belikan di Mega Mall. Kebetulan saja lagi butuh baju lengan panjang untuk keperluan sidang, lalu saya juga melihat baju daster berwarna indah. Coraknya warna dasar kuning telor dengan motif bundar-bundar hitam bercampur ungu terong yang tegas. Kayaknya indah sekali di mata saya. Teringat ketika isteri saya masih berumur sembilan belas, dia pernah memakai baju yang bercorak seperti itu. Ada sedikit protes ketika saya menyerahkan baju itu kepadanya. “Wah, bapak kok beli baju kayak gini. Saya kan sudah tua. Masak umur nampuluh masih pake kayak ginian?” protesnya. “Biar ibu sudah tua, tapi perasaan saya kok masih seperti dulu juga ketika ibu masih muda”.

Isteri saya pasti senang mendengar pujian itu, maka ketika saya sedang sendirian duduk di beranda itu,  dia sengaja memakai baju itu dan “pura-pura” ngantar teh manis kesukaan saya. Benar saja, kata pertama saya menyambut kedatangannya: “Tuh, kan? Ibu kelihatan cantik sekali”. Dia sumringah mendengar pujian itu.

Saya selalu menasehatkan kepada calon penganten baru bila saya diundang untuk memberikan nasehat perkawinan “Peliharalah cintamu sejak malam ini sampai malam terakhir di masa tua ketika engkau menjelang pertemuan dengan sang khaliq”. Ada kalimat bijak yang saya sunting dari seorang penceramah di TV, ketika dia sedang menghadiri malam terakhir seorang wanita yang dalam sakratul maut. Suaminya berada di sampingnya, lalu si isteri menggapai tangan suaminya dan berkata: “Pa, saya sudah puas menjalani hidup ini. Saya sudah puas karena ada papah yang mencintai saya. Saya puas dengan cintamu…” Lalu dia menghebuskan nafasnya yang terakhir. Sungguh cinta yang mengharukan.

Saya ingin membuat terapi kepada klien saya itu dengan “Terapi seribu cinta”. Saya sangat yakin bahwa klien saya itu tidak hirau pada kebutuhan isteri akan cinta. Meski cinta itu tidak perlu diucapkan  seperti “aku cinta kepadamu”. Tapi isyarat-isyarat cinta bisa dikirmkan dengan berbagai cara. Bercintalah dengan isteri di setiap tempat. Di dapur, di ruang makan, di ruang tamu apalagi di kamar tidur. Kalau isterimu sedang memasak, cobalah datangi diam-diam dari belakang, pegang pundaknya, lalu bisikkan kata-kata: “Kayaknya enak betul bau masakan ibu. Masak apa sih kok harum benar”

Banyak cara untuk menyatakan cinta. Maka saya berusaha meyakinkan kepada klien saya itu bahwa sekiranya masih ada setitik harapan, sudilah dia menuruti nasehat dan saran saya. “Saran dan nasehat bapak bagaimana?” katanya. “Sederhana saja. Saya akan buatkan surat, dan bapak tanda tangani kalau setuju isinya”, jawab saya.

Malam itu sesudah sholat isya, saya duduk di depan komputer dengan segenap imajinasi saya tentang cinta yang gegap gempita, yang mengharu biru, yang melankolik, dan tentu saja pasti lebay.

Bunyi surat itu: “Dear Amelia. Meski aku sekarang sedang tidak berada di sampingmu, tapi wangi tubuhmu tetap ada di dekatku. Aku menyadari, bahwa sejak aku menyatakan cinta pada awal pertemua kita, saya telah lalai memeliharanya. Saya telah larut dalam ego saya, mencari hiburan di luar rumah padahal engkau sebenarnya sudah cukup bagiku. Ketika malam menyelimutiku sendirian, baru aku tahu bahwa dirimua adalah sumber kehangatanku. Kalau engkau mau memaafkan aku, besok saya akan pulang”

Surat itu saya bawa kepada klien saya. Meski saya ragu, apakah dia mau menyetujui isi surat itu dan mau menanda tanganinya. Dalam perjalanan saya berdoa dan membaca ayat “Alam nasrah”. Kata kiyai, setiap engkau mengalami masalah bacalah ayat itu karena Allah akan memudahkan jalan yang akan engkalu lalui. Ayat itu antara lain berbunyi: “Bahwa sesungguhnya di setiap kesulitan itu ada jalan kemudahan. Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan”. Sebagai professional, saya akan merasa berhasil apabila upaya perdamaian dalam suatu perkara tercapai. Karena itu, klien saya meski “bukan sanak bukan kadang”, tetap saya inginkan mereka bahagia dalam perdamaian.

Saya sudah menerima kembali surat itu dan sudah ditanda tangani klien. Sesudahnya, saya bertindak sebagai “mak comblang” mengantarkan surat itu ke isterinya di sebuah komplek perumahan. Si isteri terkejut atas kedatangan saya karena tidak memberi tahu sebelumnya. Dengan ramah dia menyambut saya. Lalu dia berbasa basi sejenak. “Ada apa pak, kok tiba-tiba datang kesini?” Saya agak kikuk dengan pertanyaan itu. Tapi saya berusaha tegar, dan siap-siap menghadapi hal yang terburuk kalau “lamaran” saya ditolak mentah-mentah.

“Begini, bu”. Awal saya yang sangat kaku. “Klien mengharap bantuan saya agar mau mengantar surat ini kepada ibu. Mudah-mudahan ibu berkenan menerimanya”.

“Surat apaan, ya?”. Silahkan ibu baca. Lalu dia membacanya. Sejenak setelah selesai membaca, dia tersandar di kursi dan diam. Tiba-tiba dia sesenggukan menangis histeris sejadinya sampai saya ketakutan. Hampir saja saya memanggil satpam perumahan itu untuk menolong saya. Saya merasa sangat menyesal telah menjadi mak comblang dan mau mengantarkan surat itu. Dia berdiri dan mau memeluk saya. Tapi lengannya saya lerai dengan lembut agar dia tidak memeluk saya. Khawatir dia berimaginasi bahwa saya adalah suaminya. Tangisnya agak mereda, tapi masih terdiam. Lalu dia berkata: “Kalau benar seperti ini suratnya, maka saya minta tolong kepada bapak agar besok pagi dia datang kesini”

Saya terpapar dalam kesunyian sendiri sambil nyetir mobil kembali dari rumah itu. Saya tidak berhenti bersyukur bahwa salah satu misi saya telah berhasil. Saya berhasil mendamaikan dua insan yang diambang perceraian. Saya berhasil “meredakan” guncangan Arasy Allah karena perceraian tidak terjadi. “Sesungguhnya perceraian itu adalah halal, tapi sangat dibenci Allah. Perceraian sesungguhnya akan menggoncangkan Arasy Allah”. Tentu guncangnya Arasy Allah itu hanya penggambaran saja bahwa betapa Allah sang maha pencipta tidak senang dengan perceraian hambanya.

 

Nasehat Perkawinan Lain
Seribu Cinta di sekitar kita
 
 
 
 
Rubrik Berita
 
Berita & Artikel
Perjanjian Kawin

UU Pornografi

Membuat green house

 
 
 
 
Web www.nasehathukum.com
NASEHATHUKUM.COM