Nama Lengkap (English version, scroll down) M.ARSYAD GAFAR,SH
Tempat/tgl lahir Ujungpandang, 22 Maret 1944
Pendidikan Sarjana Hukum (S1), Magister Hukum (S2)
Pendidikan militer:
Sekolah Dasar Perwira KKO IV - 1965 Sekolah Lanjutan Perwira I - 1974 AHM VII-PTHM IV - 1980 Sus Oditur Militer - 1985 Sus Hakim Militer - 1987 Sus Huk.Humaniter Lemhanas- 1988 Sus Kewiraan Lemhanas - 1995
Awal mulanya...
Pada bulan Februari 1965, gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Makassar semakin menakutkan sehingga banyak anak muda bergabung ke organisasi Islam seperti Banser NU (Barisan Serbaguna NU), Pemuda Muhammadiyah dsb. Waktu itu saya kuliah di Fakultas Hukum UNHAS pada tingkat III (istilah sekarang smester 6).
In February 1965, the movement of the Indonesian Communist Party (PKI) in Makassar, the more frightening so many young people to join Islamic organizations such as NU Banser (Barisan Multipurpose NU), Muhammadiyah Youth etc. At that time I studied at the Faculty of Law UNHAS at level III (the term now smester 6).
Bersamaan dengan menghangatnya situasi politik yang diperparah oleh Keadaan Darurat dalam berkonfrontasi dengan Malaysia, maka saya memutuskan untuk menjadi tentara. Saya memilih menjadi anggota KKO TNI AL (sekarang Marinir). Pendidikan militer dilaksanakan di Pusdiklat KKO AL Gubeng Surabaya selama 9 bulan di Sekolah Dasar Perwira KKO AL (SEDASPAKO IV). Tamat dari pendidikan, mendapat pangkat Letnan Dua KKO AL. Menjelang pelantikan sebagai Perwira, para siswa dibawa ke Jakarta untuk mengikuti upacara hari ABRI tgl 5 Oktober 1965.
Along with the warming political situation that was worsened by the State of Emergency in the confrontation with Malaysia, so I decided to join the army. I chose to become a member of the KKO AL (now the Marines). Military Education Training Center held in Surabaya Gubeng Marines for 9 months at the Marine Officers Basic School AL (SEDASPAKO IV). Graduated from education, received the rank of Second Lieutenant Marines. By appointment as officers, the students were taken to Jakarta to attend the ceremony on Armed Forces 5th October 1965.
Tanggal 30 September 1965 jam 07.00 WIB, para peserta latihan upacara sedang bersiap-siap akan memasuki lapangan upacara di parkir timur Gelora Bung Karno, tiba-tiba pasukan upacara diperintahkan untuk segera pulang ke Markas KKO Cilandak. Entah apa yang terjadi, belum ada yang tahu. Setiba di Markas Cilandak, kami semua dipersenjatai dengan AK 47 dengan peluru dalam magasen penuh siap tempur. Para siswa belum ada yang menyadari bahwa tadi malam pada dini hari sekitar jam 03.00 telah terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah Jenderal TNI AD.
September 30, 1965 at 07.00 pm, the participants practice the ceremony was getting ready to enter the parade ground in the parking lot east of Bung Karno, ceremonial troops suddenly ordered to immediately return to Headquarters Marine Cilandak. I do not know what happened, no one knows. Upon arrival at the Headquarters Cilandak, we were all armed with AK 47 with a bullet in magasen fully ready for combat. The students no one has noticed that last night in the early morning around 03:00 hours there have been kidnappings and killings of a number of Army General.
Sekira jam 08.00 pagi, kami mendengar melalui RRI sebuah pengumuman yang dibacakan oleh Letkol Untung yang isinya menyatakan bahwa telah terjadi penyelamatan terhadap diri Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno, dan agar setiap orang mentaati perintah gerakan revolusioner tsb. Semua anggota tentara yang lebih tinggi dari Letkol diturunkan pangkatnya sehingga menjadi Letkol.
Approximately at 08.00 am, we heard through RRI an announcement that was read by Lt. Col. Untung, states that they has to self-rescue Bung Karno the Great Leader of the Revolution, and for every person to obey the orders of the revolutionary movement. All members of the army which is higher rank than so be demoted Lieutenant Colonel.
Keadaan mencekam. Tidak ada yang tahu, siapa lawan dan siapa kawan. Kecurigaan terhadap rombongan tentara dari lain kesatuan sangat tinggi. Namun demikian, semua menahan diri untuk tidak melakukan provokasi apalagi melakukan serangan terhadap satu sama lain.
Situation tense. No one knows, who is foe and who is friend. Suspicion of the entourage of other soldiers from the unit is very high. However, all refrain from provocation let alone carry out attacks against each other.
Baru pada hari yang ketiga, keadaan semakin jelas, dan jenazah dari para Jenderal yang dibunuh sudah ditemukan di Lubang Buaya Jakarta Timur yang pada waktu itu masih berupa hutan karet. Setelah semua informasi dikumpulkan oleh aparat inteligen, maka diketahuilah bahwa penculikan dan pembunuhan itu dilakukan oleh sekelompok anggota PKI dan dibantu oleh Gerwani dan Pemuda Rakyat (keduanya adalah organisasi onderbouw PKI).
On the third day, the situation became clear, and the bodies of the Generals who were killed had been found at Lubang Buaya, East Jakarta. After all the information gathered by intelligence officers, then they will know that the kidnapping and killing was done by a group of PKI (Indonesian Communist Party) members and assisted by Gerwani and Pemuda Rakyat (both are organizations onderbouw PKI).
Peristiwa itu adalah merupakan tonggak sejarah yang menentukan arah hidup saya selanjutnya. Sejak itulah saya menetapkan hati untuk meniti karier militer dan berlangsung 32 tahun lamanya sampai pensiun tahun 1999 dengan pangkat Laksamana Pertama TNI.
The event is a milestone that determines the direction of my life next. Since then I resolve to pursue a military career and lasted 32 years until retiring in 1999 with the rank of Admiral (One star).
Kini waktu telah mencapai fase-fase akhir dari jadwal kehidupan. Saya berusaha mengisi masa tua dengan sedikit pengabdian yang masih tersisa dengan menjadi Penasehat Hukum. Tidak terasa pada tahun 2009 ini sudah sepuluh tahun lamanya saya menggeluti pekerjaan sebagai Advocat/Penasehat Hukum. Banyak orang menyangka saya sudah kaya karena menjadi Penasehat Hukum. Kenyataannya tidak juga. Karena sebenarnya lebih asyik membantu mereka yang terhimpit kesulitan dan tidak berdaya, setidaknya dengan nasehat hukum atau support moril dalam menghadapi perkara dalam kehidupan mereka.
Now the time has reached the final phases of life schedule. I tried to fill in old age with little devotion that is still left with the Legal Counsel. It was already ten years I wrestle a job as Advocat / Legal Counsel. Many people thought I was rich as a Legal Advisor. The reality is not as well. Because actually more fun to help those who are oppressed and helpless difficulty, at least with legal advice or moral support in dealing with matters in their lives.
Cerita lanjutannya... (Story continuation...)
Sebelum berkecimpung di bidang hukum, saya menjadi anggota Marinir sampai berpangkat Mayor Marinir (1966 s/d 1974). Lalu pada tahun 1974, mengikuti pendidikan di Akademi Hukum Militer dan dilanjutkan ke Perguruan Tinggi Hukum Militer (1974-1980). Karier di bidang hukum dimulai dengan jabatan Kepala sub-Dinas Pidana pada Dinas Hukum Daerah TNI-AL 3 Jakarta (sekarang Lantamal-3). Kemudian Kepala sub-dinas Operasi pada Badan Pembinaan Hukum ABRI (1981), Wakil Kepala Oditurat Milter Balikpapan (1985), Kepala Mahkamah Militer Banjarmasin (1987), Kepala Oditurat Militer Palembang (1990), Kepala Oditurat Militer Semarang (1993), Kepala Dinas Penyuluhan Hukum Babinkum ABRI (1994), Kepala Mahkamah Militer Tinggi Surabaya (1995), Wakil Kepala Badan Pembinaan Hukum ABRI (1996). Pensiun tahun 1999 dengan pangkat terakhir Laksamana Pertama TNI.
Before working in the field of law, I became a member of the Marines to the rank of Major Marine (1966 s / d 1974). Then in 1974, took courses at the Academy of Military Law and proceed to the Military College of Law (1974-1980). Career in the legal field began with the position of Head of Sub-Office of Criminal Justice at the Department of Navy Region 3 Jakarta (now Lantamal-3). Then Chief of Operations sub-offices in the Armed Forces Law Development Board (1981), Deputy Chief of Oditurat Militer Balikpapan (1985), Chief of the Mahkamah Militer Banjarmasin (1987), Chief of Oditurat Militer Palembang (1990), Chief of Oditurat Militer Semarang (1993), Head Of Legal Awareness Campaign Babinkum ABRI (1994), Head of the High Military Court in Surabaya (1995), Deputy Head of the Armed Forces Law Development (1996). Retiring in 1999 with the rank of First Admiral TNI.
Setelah pensiun, mengikuti ujian pengacara yang diselenggarakan oleh Pengadilan Tinggi Jakarta tahun 2000, dan mendapat lisensi untuk melakukan pekerjaan sebagai Pengacara/Penasehat Hukum praktek dibawah supervisi Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Setelah terbitnya UU Advokat, saya bergabung dengan Ikadin Jakarta Barat (2005) dan kemudian dengan Peradi (2007).
Following the bar exam organized by the Jakarta High Court in 2000, and are licensed to perform work as a Lawyer / Legal Advisor practice under the supervision of the West Jakarta District Court. After the publication of the Advocate Law, I joined Ikadin West Jakarta (2005) and then with Peradi (2007).
Menjadi Pengacara atau Penasehat Hukum ternyata saya harus memulainya dari bawah, meskipun memiliki jam terbang yang cukup di bidang hukum, ternyata duduk di kursi sebelah kiri Hakim benar-benar merupakan wilayah baru bagi saya. Saya sering bercanda dengan rekan-rekan sejawat, bahwa di ruang Pengadilan, saya sudah pernah menduduki semua kursi kecuali kursi Terdakwa (amit-amit,naudzubillah).
Being a lawyer or Legal Counsel for the reality I have to start from the bottom, despite having enough flight hours in the fields of law. Sitting in a chair next to Judge left really is new territory for me. I often joke with colleagues, that the court room, I've been occupied all the seats except the chair defendant.
Banyak orang bertanya, mengapa saya mau melayani sendiri klient bersusah payah masuk keluar tahanan Polisi untuk kepentingan pelayanan hukum bagi klient. Jawaban saya sederhana. Bahwa saya ingin merasakan sendiri bagaimana susahnya orang-orang yang menjadi klient saya. Memang, kalau saya renungkan, sejatinya saya pernah menjadi Perwira Tinggi TNI AL yang ketika masih aktif, bisa merasakan pelayanan dari Dinas TNI AL dan ABRI (sekarang TNI) yang nyaman, enak dan tidak susah.
Many people ask why I want to serve the clients struggling in and out of police custody for the benefit of legal services for the client. The answer is simple. That I wanted to feel first hand how hard the people who became my client. Indeed, if I think, actually I had been a Senior Officer of the Navy that could feel the services, convenient, tasty and no difficulties.
Tetapi sekarang, saya ingin melupakan semua masa lalu itu agar tidak membebani perasaan. Saya ingin menjadi diri saya yang sekarang, seorang Pengacara yang bekerja berdasarkan order klient, bersusah payah kesana kemari untuk membuat klient saya nyaman, meskipun saya sendiri susah. Bayangkan, klient yang saya layani biasanya di Timika Papua, Tual, Dobo dsb. Terbang dari Jakarta butuh waktu 9 jam.
But now, I want to forget all that past so as not to burden the feeling. I want to be myself now, a lawyer who worked on the basis of client orders, take pains to and fro to make my clients comfortable, though my own is difficult. Imagine, I serve clients who are usually in Timika in Papua, Tual, Dobo. It takes 9 hours from Jakarta.
Berangkat dari Jakarta jam 10 malam, tiba di Timika jam 7 pagi, dilanjutkan sidang di PN Timika Jam 10. Apalagi sekarang ditambah lagi melayani perkara klient di Banyuwangi. Terbang dari Timika jam 12 siang, tiba di Bali jam 9 malam, lalu melanjutkan perjalanan ke Gilimanuk 6 jam naik bis, 1 jam naik fery ke Ketapang lalu ke Banyuwangi naik ojek jam 3 malam. Wuah....bukan main...capeknya. Tapi semua itu saya lakukan dengan senang hati, biar tidak kelihatan cepat tua.
Depart from Jakarta at 10 pm, arrived in Timika at 7 am, followed the trial in District Court Timika at 10 o'clock. Especially now with another case serves clients in Banyuwangi. Flying from Timika at 12 noon, arriving in Bali at 9 pm, then continued on to Gilimanuk 6 hour by bus , 1 hour more by ferry ride to Banyuwangi Ketapang then to ride by motorcycles (Ojek) at 3 p.m. late at night. Wuuuah .... It's hard... tired. But I do with pleasure, let me not look old fast.
Jadi mengapa saya mau melakukannya? jawabnya: Yah, itulah kehidupan. Betapapun sulitnya kalau bisa enjoy, kenapa susah ??
Hidup akan terasa nyaman dan enak kalau bisa memberikan yang terbaik kepada orang lain.
Kalau ada masalah hukum yang anda hadapi, cobalah curhat dengan e-mail ke info@nasehathukum.com
So why do I want to do this? Well, that's life. No matter how difficult it if you can enjoy it, and life is fun...
Life will feel comfortable and good if you can give the best to others.
If there are legal issues you face, try to confide in an e-mail to info@nasehathukum.com
Pelayanan dengan e-mail gratis.. Service by email for free...
Jangan lupa: Nama dan alamat anda, sekurangnya kota tempat anda berada. Jangan sampai keliru alamat e-mail anda agar saya dapat membalasnya. Terimakasih. |